Kamis, 29 Januari 2015

Wonderful Story In Green Tea Land

        
Entah kapan , aku tak ingat , Pak Budi , wali kelasku , yakni wali kelas 9A tiba tiba datang ke kelas. Padahal , saat itu bukan jam pelajaran PKN. Beliau duduk dan kemudian berbicara kepada kami semua , siswa kelas 9A perihal ‘kadar kestress-an’ selama di kelas 9. Untuk itu , beliau berencana mengadakan acara jalan jalan sekelas. Beliau kemudian bertanya kepada kami tentang tempat yang akan dipilih. Saat itu beliau memberikan dua pilihan , yakni ke Malang Anggun Sejahtera di Sumber Porong atau ke kebun teh di Ketindan. Setelah melalui musyawarah , semua setuju untuk ke kebun teh. Akhirnya diputuskan , kami siswa kelas 9A bersama Pak Budi akan mengadakan ‘rujakan’ sekaligus piknik kecil kecilan di kebun teh Ketindan pada hari Minggu , 16 November 2014.
            Hari yang ditunggu telah tiba. Jam menunjukkan pukul 7.15. Aku segera berangkat ke Pasar Lawang ( dengan diantar ibuku tercinta tentunya ) untuk berkumpul bersama teman -  teman. Sebelumnya , kami semua berjanji untuk berkumpul di Pasar Lawang pukul 7.30 dan menaiki SLKW yang telah dipesan. Aku pun sampai di Pasar Lawang. Setelah bersalaman dengan ibuku , aku segera menemui teman teman yang saat itu hanya berjumlah empat orang , yakni Dhandy , Nisa , Ifa , dan Acis. Beberapa menit berlalu , teman teman yang lain sudah berkumpul. Sebenarnya , 22 siswa telah berkumpul di tempat itu sebelum pukul 7.30. Tapi masalahnya , yang ikut ke Kebun Teh berjumlah 23 orang. Jadi kurang satu kan ? siapa lagi kalau bukan Alif Alfarizy atau yang biasa dipanggil dengan nama Zizik. Aku sempat kesal , karena pada saat jam menunjukkan pukul 7.40 , dia belum juga datang. Padahal , 2 SLKW yang kami pesan telah stand by di situ juga. “ Lha wong rumahnya deket , kok telat sih , Zik?” batinku dalam hati. Tak lama kemudian , orang yang ditunggu tunggu pun datang “ Dasar Mr.Telat “ kataku dalah hati sambil sedikit tersenyum. Kami pun berangkat menuju ke kebun teh, namun tanpa didampingi Pak Budi. Memang beberapa hari yang lalu beliau telah mengabari kepada kami semua kalau akan datang terlambat karena harus menjemput saudaranya di Bandara Djuanda , Surabaya. SLKW pun melaju , angin semilir dan udara segar mulai memenuhi seisi SLKW. Sejuknya , senang rasanya bisa merasakan suasana seperti ini bersama teman teman. Di SLKW , semuanya mengadakan acara sendiri sendiri , atau lebih tepatnya ‘ngoceh’ sendiri sendiri. Aku berbincang dengan temanku Nisa yang kebetulan duduk di sebelahku tentang apa saja. Sesekali kami berdua tertawa terbahak bahak. Tak terasa , kami telah sampai di kebun teh. Aku segera turun dari SLKW. Bersama teman teman lainnya , aku berjalan kea rah atas untuk menemukan tempat ‘piknik’ yang tepat. Namun ternyata , saat itu kebun teh sangan ramai karena ada perayaan atau acara , entahlah dari pihak Kabupaten Malang. Aku dan Nisa menuju ke pusat informasi , menanyakan jalan pintas untuk menuju ke atas.
          Setelah mendapat informasi , akhirnya kami berjalan menyusuri tea walk. Setelah berjalan cukup jauh , akhirnya kami menemukan tempat piknik yang ‘tepat’. Letaknya di bawah pohon besar , rindang dan sejuk sekali. Teman temanku yang laki laki segera menggelar tikar. Tak lama kemudian , tikar yang awalnya kosong sekarang dipenuhi oleh berbagai buah buahan segar untuk acara rujakan kami. Uhm.. senangnya , aku sendiri membawa mangga muda dan bengkuang. Setelah puas memakan buah buahan yang ada , acara dilanjutkan dengan berfoto ria. Semuanya bersikap narsis dan sedikit alay tentunya. ‘Ckrik Ckrik Ckrik’ belasan foto sudah diambil. Tapi rupanya , hasrat teman temanku untuk berfoto masih belum terbayar. Humm.. lucu juga, di setiap detik berlalu , gaya kami selalu berubah. Tapi tiba tiba hp ku berdering. Ternyata ada SMS dari Pak Budi , wali kelas kami yang katanya telah sampai di kebun teh. Aku , Nisa , Nia , Rincha , Awal , dan Aan segera berjalan menyusuri tea walk untuk menjemput beliau. Sesampainya di sana , kami terbagi menjadi 2 kelompok. Aku , Nisa , Awal dan Rincha berdiri di depan pusat informasi sedangkan yang lainnya menunggu di depan arena bermain. Karena situasi waktu itu sangan ramai, kami merasa kesulitan untuk menemukan Pak Budi. Setelah beberapa saat menunggu , tiba tiba hp ku bordering. SMS dari Nia rupanya. Dia mengatakan kalau Pak Budi sudah ada di situ. Kami pun kembali menuju tempat mereka.
          Pak Budi dan yang lainnya berjalan menuju ke tempat ‘piknik’. Sedangkan aku dan Nisa ‘mampir’ dulu ke toilet. Bodoh dan lucunya kami, tarif yang tertera di situ 2000. Kami tidak membacanya dan hanya memberi uang 1000 kepada penjaganya. Segera ‘si penjaga’ itu menegur kami “2000 ya Mbak” katanya. Dan naasnya , kami hanya membawa uang 1000 saja. ‘Masa harus kembali ke tempat piknik untuk mengambil uang lalu kembali ke toilet ? kan jauh ?’ batinku. Untungnya saat itu Salma dkk lewat di depan toilet. Aku segera mengejarnya “ Pinjam 1000 ya Sal , ntar tak kembaliin” kataku. Ia pun mengangguk sambil tersenyum. Tangannya merogoh tas kecil yang dibawanya. Beberapa detik kemudian , ia menyodorkan selembar uang kepadaku. “Makasih” kataku sambil tersenyum.
          Setelah itu , aku dan Nisa kembali ke tempat yang lain berkumpul. Sesampainya di sana , aku duduk di tikarsambil memakan ‘lagi’ buah buahan yang ada. Aku dan yang lainsegera melanjutkan acara foto. Namun kali ini berbeda karena ada Pak Budi. Aku tertawa terbahak bahak melihat kelakuan konyol Acis , Dhandy , Wahyu , Rincha , Abrar , Ardi , Rizky , Zizik dan Gandhi. Rencananya mereka akan membuat sebuah video klip bertema komedi. Namun , meski diulang beberapa kali , ‘proyek’ yang hendak mereka buat selalu gagal karena kesalahan dari Wahyu ( Terutama ). Lucu banget deh pokoknya.
          Lama lama aku merasa bosan. Tiba tiba muncul ide di pikiranku. Aku mengajak Nisa untuk menyewa sepeda yang dikemudikan 2 orang. “ Kayaknya bakal seru deh “ kataku padanya. Nisa pun mengangguk setuju. Setelah membeli karcis , kami segera mengendarainya. Eh.. bukannya sepedanya jalan , malah berhenti terus. Fiuh .. ternyata tak semudah yang kami bayangkan. Pada saat proses ‘mancal’ harus kompak kalau tidak yah .. sepedanya enggak bakal jalan. Atau yang lebih parah , sepedanya bakal jatuh. Berkali kali Aku dan Nisa gagal. Namun , yang lebih parah lagi, karena ketidak bisaan kami itu , kami tertawa terbahak bahak. Dikit dikit tertawa , dikit dikit tertawa. Pokoknya setiap gagal pasti tertawa , hingga perutku sakit. Namun lama kelamaan akhirnya kami bisa kompak. Yippie .. sekarang baru bisa ngerasain sensasi bersepeda yang dikemudikan orang dua. Soalnya dari tadi yang banyak dirasain ketawanya. Tak terasa , waktu penyewaan sepeda sudah selesai. Kami segera mengembalikannya ke tempat penyewaan dan kembali berjalan menuju tempat piknik.
          Selama berjalan , kami kembali tertawa mengingat ketidak bisaan kami mengendarai sepeda itu pada awalnya. “ Justru yang bikin seru itu pas ngguyunya, sama pas nggak bisanya. Coba kalo langsung bisa , nggak bakalan seru lagi “ kataku pada Nisa. Ia mengangguk sambil tertawa. Iiih .. lucu deh pokoknya.
          Waktu itu , suasana di tempat piknik lumayan ‘sepi mamring’. Hanya sebagian kecil temanku yangmasih ‘bertengger’ di sana. Yang lain ( termasuk Pak Budi ) rupanya sedang ngluyur sendiri sendiri untuk menikmati suasana. Tak lama kemudian , Pak Budi ( dan putra bungsunya ) kembali. Baru saja tiba , ehh.. ‘si adek kecil’ ( anaknya pak budi ) bilang kalau dia pingin ‘BAK’ ( Buang Air Kecil ). Akhirnya , Pak Budi memutuskan mengantarkan putranya ke toilet sekaligus pamit untuk pulang duluan.
          Hari beranjak siang , namun teman teman yang lain tak kunjung kembali. Padahal , langit sudah menunjukkan wajah suramnya. Tak lama kemudian , semuanya kembali berkumpul. Karena takut hujan , maka kami memutuskan untuk segera pulang. Aku dan teman teman yang lain segera melipat tikar , mengemasi barang barang dan memunguti sampah. Oh ya ! ada kejadian ‘istimewa’ lho sebelum kami semua pulang. Waktu itu kebetulan ada bule. Tiba tiba , perempuan yang ada di dekatnya ( mungkin istrinya ) mengajak kami semua untuk foto bersamanya. ‘Ckrik Ckrik Ckrik’ foto pun diambil. Setelah itu kami segera berjalan menuju pintu keluar. Sebelumnya , ‘Mr. Bule’ mengucapkan ‘Terimakasih’ dengan logat Eropanya kepada kami semua.
          Tuan langit makin berwajah suram. Kami mempercepat lagkah untuk menuju parkiran SLKW. Sesampainya di sana , mengecewakan ! SLKW yang kami sewa belum datang. Kami menunggu ,menunggu dan menunngu. Dan akhirnya .. ‘BRUSH !’ Tuan langit mengeluarkan air matanya. Air hujan mengguyur tubuh kami. Spontan aku dan yang lainnya lari menuju ke ehm .. mungkin sejenis villa yang ada di sekitar parkiran untuk berteduh. Tak lama kemudian , tuan langit sudah tidak menagis , tapi masih berwajah suram. Namun , SLKW nya tak kunjung datang. Karena takut waktunta tidak cukup , maka aku dan teman teman yang lainnya segera melaksanakan shalat Dhuhur di mushalla terdekat. Setelah shalat , teryata SLKW nya telah datang. Akhirnya kami meninggalkan kebun teh. Kurang lebih pada jam setengah tiga.
          Tuan langit masih berwajah suram , tapi sudah tak menangis lagi. Angin semilir yang terasa segar telah menabrakkan dirinya dengan lembut kea rah wajahku. Hari ini aku senang sekali , bisa merasakan pengalaman istimewa bersama teman teman ditemani hijaunya teh. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar