Entah kapan , aku tak ingat , Pak Budi , wali kelasku , yakni wali kelas 9A tiba tiba datang ke kelas. Padahal , saat itu bukan jam pelajaran PKN. Beliau duduk dan kemudian berbicara kepada kami semua , siswa kelas 9A perihal ‘kadar kestress-an’ selama di kelas 9. Untuk itu , beliau berencana mengadakan acara jalan jalan sekelas. Beliau kemudian bertanya kepada kami tentang tempat yang akan dipilih. Saat itu beliau memberikan dua pilihan , yakni ke Malang Anggun Sejahtera di Sumber Porong atau ke kebun teh di Ketindan. Setelah melalui musyawarah , semua setuju untuk ke kebun teh. Akhirnya diputuskan , kami siswa kelas 9A bersama Pak Budi akan mengadakan ‘rujakan’ sekaligus piknik kecil kecilan di kebun teh Ketindan pada hari Minggu , 16 November 2014.
Hari yang
ditunggu telah tiba. Jam menunjukkan pukul 7.15. Aku segera berangkat ke Pasar
Lawang ( dengan diantar ibuku tercinta tentunya ) untuk berkumpul bersama teman
- teman. Sebelumnya , kami semua
berjanji untuk berkumpul di Pasar Lawang pukul 7.30 dan menaiki SLKW yang telah
dipesan. Aku pun sampai di Pasar Lawang. Setelah bersalaman dengan ibuku , aku
segera menemui teman teman yang saat itu hanya berjumlah empat orang , yakni
Dhandy , Nisa , Ifa , dan Acis. Beberapa menit berlalu , teman teman yang lain
sudah berkumpul. Sebenarnya , 22 siswa telah berkumpul di tempat itu sebelum
pukul 7.30. Tapi masalahnya , yang ikut ke Kebun Teh berjumlah 23 orang. Jadi
kurang satu kan ? siapa lagi kalau bukan Alif Alfarizy atau yang biasa
dipanggil dengan nama Zizik. Aku sempat kesal , karena pada saat jam
menunjukkan pukul 7.40 , dia belum juga datang. Padahal , 2 SLKW yang kami
pesan telah stand by di situ juga. “ Lha wong rumahnya deket , kok telat sih ,
Zik?” batinku dalam hati. Tak lama kemudian , orang yang ditunggu tunggu pun datang
“ Dasar Mr.Telat “ kataku dalah hati sambil sedikit tersenyum. Kami pun
berangkat menuju ke kebun teh, namun tanpa didampingi Pak Budi. Memang beberapa
hari yang lalu beliau telah mengabari kepada kami semua kalau akan datang terlambat
karena harus menjemput saudaranya di Bandara Djuanda , Surabaya. SLKW pun
melaju , angin semilir dan udara segar mulai memenuhi seisi SLKW. Sejuknya ,
senang rasanya bisa merasakan suasana seperti ini bersama teman teman. Di SLKW
, semuanya mengadakan acara sendiri sendiri , atau lebih tepatnya ‘ngoceh’
sendiri sendiri. Aku berbincang dengan temanku Nisa yang kebetulan duduk di
sebelahku tentang apa saja. Sesekali kami berdua tertawa terbahak bahak. Tak
terasa , kami telah sampai di kebun teh. Aku segera turun dari SLKW. Bersama
teman teman lainnya , aku berjalan kea rah atas untuk menemukan tempat ‘piknik’
yang tepat. Namun ternyata , saat itu kebun teh sangan ramai karena ada
perayaan atau acara , entahlah dari pihak Kabupaten Malang. Aku dan Nisa menuju
ke pusat informasi , menanyakan jalan pintas untuk menuju ke atas.
Setelah mendapat informasi , akhirnya
kami berjalan menyusuri tea walk. Setelah berjalan cukup jauh , akhirnya kami
menemukan tempat piknik yang ‘tepat’. Letaknya di bawah pohon besar , rindang
dan sejuk sekali. Teman temanku yang laki laki segera menggelar tikar. Tak lama
kemudian , tikar yang awalnya kosong sekarang dipenuhi oleh berbagai buah
buahan segar untuk acara rujakan kami. Uhm.. senangnya , aku sendiri membawa
mangga muda dan bengkuang. Setelah puas memakan buah buahan yang ada , acara
dilanjutkan dengan berfoto ria. Semuanya bersikap narsis dan sedikit alay
tentunya. ‘Ckrik Ckrik Ckrik’ belasan foto sudah diambil. Tapi rupanya , hasrat
teman temanku untuk berfoto masih belum terbayar. Humm.. lucu juga, di setiap
detik berlalu , gaya kami selalu berubah. Tapi tiba tiba hp ku berdering.
Ternyata ada SMS dari Pak Budi , wali kelas kami yang katanya telah sampai di
kebun teh. Aku , Nisa , Nia , Rincha , Awal , dan Aan segera berjalan menyusuri
tea walk untuk menjemput beliau. Sesampainya di sana , kami terbagi menjadi 2
kelompok. Aku , Nisa , Awal dan Rincha berdiri di depan pusat informasi
sedangkan yang lainnya menunggu di depan arena bermain. Karena situasi waktu
itu sangan ramai, kami merasa kesulitan untuk menemukan Pak Budi. Setelah
beberapa saat menunggu , tiba tiba hp ku bordering. SMS dari Nia rupanya. Dia
mengatakan kalau Pak Budi sudah ada di situ. Kami pun kembali menuju tempat
mereka.
Pak Budi dan yang lainnya berjalan
menuju ke tempat ‘piknik’. Sedangkan aku dan Nisa ‘mampir’ dulu ke toilet.
Bodoh dan lucunya kami, tarif yang tertera di situ 2000. Kami tidak membacanya
dan hanya memberi uang 1000 kepada penjaganya. Segera ‘si penjaga’ itu menegur
kami “2000 ya Mbak” katanya. Dan naasnya , kami hanya membawa uang 1000 saja.
‘Masa harus kembali ke tempat piknik untuk mengambil uang lalu kembali ke
toilet ? kan jauh ?’ batinku. Untungnya saat itu Salma dkk lewat di depan
toilet. Aku segera mengejarnya “ Pinjam 1000 ya Sal , ntar tak kembaliin”
kataku. Ia pun mengangguk sambil tersenyum. Tangannya merogoh tas kecil yang dibawanya.
Beberapa detik kemudian , ia menyodorkan selembar uang kepadaku. “Makasih”
kataku sambil tersenyum.
Setelah itu , aku dan Nisa kembali ke
tempat yang lain berkumpul. Sesampainya di sana , aku duduk di tikarsambil
memakan ‘lagi’ buah buahan yang ada. Aku dan yang lainsegera melanjutkan acara
foto. Namun kali ini berbeda karena ada Pak Budi. Aku tertawa terbahak bahak
melihat kelakuan konyol Acis , Dhandy , Wahyu , Rincha , Abrar , Ardi , Rizky ,
Zizik dan Gandhi. Rencananya mereka akan membuat sebuah video klip bertema
komedi. Namun , meski diulang beberapa kali , ‘proyek’ yang hendak mereka buat
selalu gagal karena kesalahan dari Wahyu ( Terutama ). Lucu banget deh
pokoknya.
Lama lama aku merasa bosan. Tiba tiba
muncul ide di pikiranku. Aku mengajak Nisa untuk menyewa sepeda yang
dikemudikan 2 orang. “ Kayaknya bakal seru deh “ kataku padanya. Nisa pun
mengangguk setuju. Setelah membeli karcis , kami segera mengendarainya. Eh..
bukannya sepedanya jalan , malah berhenti terus. Fiuh .. ternyata tak semudah
yang kami bayangkan. Pada saat proses ‘mancal’ harus kompak kalau tidak yah ..
sepedanya enggak bakal jalan. Atau yang lebih parah , sepedanya bakal jatuh.
Berkali kali Aku dan Nisa gagal. Namun , yang lebih parah lagi, karena ketidak
bisaan kami itu , kami tertawa terbahak bahak. Dikit dikit tertawa , dikit
dikit tertawa. Pokoknya setiap gagal pasti tertawa , hingga perutku sakit.
Namun lama kelamaan akhirnya kami bisa kompak. Yippie .. sekarang baru bisa
ngerasain sensasi bersepeda yang dikemudikan orang dua. Soalnya dari tadi yang
banyak dirasain ketawanya. Tak terasa , waktu penyewaan sepeda sudah selesai.
Kami segera mengembalikannya ke tempat penyewaan dan kembali berjalan menuju
tempat piknik.
Selama berjalan , kami kembali tertawa
mengingat ketidak bisaan kami mengendarai sepeda itu pada awalnya. “ Justru
yang bikin seru itu pas ngguyunya, sama pas nggak bisanya. Coba kalo langsung
bisa , nggak bakalan seru lagi “ kataku pada Nisa. Ia mengangguk sambil
tertawa. Iiih .. lucu deh pokoknya.
Waktu itu , suasana di tempat piknik
lumayan ‘sepi mamring’. Hanya sebagian kecil temanku yangmasih ‘bertengger’ di
sana. Yang lain ( termasuk Pak Budi ) rupanya sedang ngluyur sendiri sendiri
untuk menikmati suasana. Tak lama kemudian , Pak Budi ( dan putra bungsunya )
kembali. Baru saja tiba , ehh.. ‘si adek kecil’ ( anaknya pak budi ) bilang
kalau dia pingin ‘BAK’ ( Buang Air Kecil ). Akhirnya , Pak Budi memutuskan
mengantarkan putranya ke toilet sekaligus pamit untuk pulang duluan.
Hari beranjak siang , namun teman
teman yang lain tak kunjung kembali. Padahal , langit sudah menunjukkan wajah
suramnya. Tak lama kemudian , semuanya kembali berkumpul. Karena takut hujan ,
maka kami memutuskan untuk segera pulang. Aku dan teman teman yang lain segera
melipat tikar , mengemasi barang barang dan memunguti sampah. Oh ya ! ada
kejadian ‘istimewa’ lho sebelum kami semua pulang. Waktu itu kebetulan ada
bule. Tiba tiba , perempuan yang ada di dekatnya ( mungkin istrinya ) mengajak
kami semua untuk foto bersamanya. ‘Ckrik Ckrik Ckrik’ foto pun diambil. Setelah
itu kami segera berjalan menuju pintu keluar. Sebelumnya , ‘Mr. Bule’
mengucapkan ‘Terimakasih’ dengan logat Eropanya kepada kami semua.
Tuan langit makin berwajah suram. Kami
mempercepat lagkah untuk menuju parkiran SLKW. Sesampainya di sana , mengecewakan
! SLKW yang kami sewa belum datang. Kami menunggu ,menunggu dan menunngu. Dan
akhirnya .. ‘BRUSH !’ Tuan langit mengeluarkan air matanya. Air hujan mengguyur
tubuh kami. Spontan aku dan yang lainnya lari menuju ke ehm .. mungkin sejenis
villa yang ada di sekitar parkiran untuk berteduh. Tak lama kemudian , tuan
langit sudah tidak menagis , tapi masih berwajah suram. Namun , SLKW nya tak
kunjung datang. Karena takut waktunta tidak cukup , maka aku dan teman teman
yang lainnya segera melaksanakan shalat Dhuhur di mushalla terdekat. Setelah
shalat , teryata SLKW nya telah datang. Akhirnya kami meninggalkan kebun teh.
Kurang lebih pada jam setengah tiga.
Tuan langit masih berwajah suram ,
tapi sudah tak menangis lagi. Angin semilir yang terasa segar telah menabrakkan
dirinya dengan lembut kea rah wajahku. Hari ini aku senang sekali , bisa
merasakan pengalaman istimewa bersama teman teman ditemani hijaunya teh.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar